Pemerintah Terus Giatkan Bangun Industri Hilir


[BANDUNG] Pemerintah bertekat  terus meningkatkan program dan pelaksanaan pembangunan industri pengolahan (hilir). Program hilirisasi industri ini difokuskan pada industri berbasis agro yakni industri hilir sawit, kakao dan karet.   

Demikian dikatakan Menteri Perindustrian, MS Hidayat, dalam acara Worshop Pendalaman Kebijakan Industri di Bandung, Jawa Barat, Kamis (21/3) malam. 

Turut hadir dalam acara bersama wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Perindustrian (Forwin) itu adalah Wakil Menteri Perindustrian, Alex W Retraubun dan para pejabat eselon I Kemenperin.   

Selain industri tersebut di atas, kata Hidayat, hilirisasi industri juga akan difokuskan pada industri berbasis bahan tambang mineral seperti industri besi baja, aluminium, nikel dan tembaga. Selain itu berfokus pada industri berbasis migas yakni industri pupuk dan petrokimia.   

Hidayat mengatakan, program hilirisasi industri berbasis agro komoditas yang akan dikembangkan antara lain industri hilir kelapa sawit menjadi minyak goreng, biodiesel dan oleokimia. 

Industri hilir kakao yakni menghasilkan cake, pasta, butter dan bubuk. Industri karet akan menjadi ban, vulkanisir ban, sarung, tangan karet, mechanical rubber goods, alas kaki.   

Dikatakan, rencana aksi pengembangan industri hilir berbasis agro yakni pertama, fasilitas pengembangan klaster industri hilir kelapa sawit di Sei Mangkai (Sumatera Utara), Dumai dan Maloy. 

Kedua, fasilitas pengembangan klaster industri kakao di Sulawesi dan Kalimantan Tengah. Ketiga, promosi investasi industri hilir berbasis agro di dalam maupun luar negeri. Keempat, mengefektifkan fasilitas tax holiday dan tax allowance untuk mendorong investasi industri hilir berbasis agro.   

Sedangkan program hilirisasi industri berbasis bahan tambang mineral, Hidayat menjelaskan, komoditas yang akan dikembangkan pada program hilirisasi industri berbasis bahan tambang mineral antara lain industri hilir besi baja, aluminium, nikel dan tembaga.   

Langkah-langkah yang akan dilakukan, yakni pemberian bea keluar untuk 65 jenis mineral. Selain itu akan disusun peta jalan (roadmap) pengembangan industri berbasis mineral dan logam yakni bauksit, tembaga, nikel dan bijih besi atau pasir besi paling lambat enam bulan sejak dikeluarkan Inpres Nomor 3 Tahun 2013 tentang Percepatan Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Pengolahan dan Pemurniaan di Dalam Negeri.   

Dan langkah yang lain, kata dia, adalah harmonisasi kebijakan pengembangan industri berbasis hasil tambang, mineral terkait dengan ketentuan divestasi, perizinan dan royalti.   

Hidayat mengatakan, program hilirisasi industri berbasis migas, industri yang akan dikembangkan antara lain, pertama, revitalisasi lima pabrik pupuk yaitu pupuk Kalimantan Timur-5, Kujang 1C, Petrokimia Gresik (PKG) II, Pupuk Sriwijaya (Pusri) II-B, Pusri - IIIB. 

Kedua, pengembangan kawasan industri Petrokimia Teluk Bintuni, Papua Barat, pertama, produk yang dikembangkan antara lain amoniak 1,2 juta ton, urea 2,3 juta ton, metanol 1,5 juta ton, polipropilena 400.000 ton.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar